Jakarta -Kondisi ekonomi masyarakat saat ini kian memprihatinkan. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, daya beli menurun, sementara lapangan pekerjaan semakin sempit. Di tengah kesulitan tersebut, praktik korupsi yang dilakukan secara ugal-ugalan menjadi salah satu penyebab utama terpuruknya kesejahteraan rakyat.
Dana publik yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial justru bocor ke kantong segelintir oknum. Akibatnya, program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat tidak berjalan maksimal, bahkan banyak yang mangkrak di tengah jalan. Ungkap Ketum Aktivis KPKB Dede Mulyana,Jumat (9/0126)
"Korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga mematikan denyut ekonomi rakyat kecil. Petani kesulitan mendapatkan subsidi, pedagang kecil tercekik biaya operasional, dan buruh harus bertahan dengan upah yang tak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan hidup.
Lebih ironis lagi, saat masyarakat diminta bersabar dan berhemat, sebagian pejabat justru mempertontonkan gaya hidup mewah hasil dari uang rakyat. Ketimpangan sosial semakin lebar, kepercayaan publik terhadap pemerintah pun terus menurun.
Dede menilai, selama korupsi masih dibiarkan merajalela, pemulihan ekonomi hanya akan menjadi slogan tanpa makna. Penegakan hukum yang tegas, transparansi anggaran, dan keberpihakan nyata kepada rakyat menjadi kunci untuk memulihkan ekonomi nasional.
"Kami berharap pemerintah tidak lagi menutup mata. Pemberantasan korupsi harus menjadi agenda utama, bukan sekadar janji politik. Sebab selama korupsi terus ugal-ugalan, rakyatlah yang akan selalu menanggung beban paling berat.
Penulis : Dede Mulyana Penggiat Anti Korupsi Aktivis KPKB dan Konsultan Hukum Keramat Nusantara



Tidak ada komentar:
Posting Komentar